Sunday, 5 January 2014

LIPSTIK MERAH DAHLAN

*****
Sebuah prolog
Sebelum tulisan ini dimulai. Memang dari judul ini sudah mengantarkan pembaca pada judul buku Sepatu dahlan karya Khrisna Pabichara. Sebuah novel yang mengungkap kisah perjuangan Dahlan Iskan sehingga survive hingga sekarang. “Sepatu Dahlan” ini adalah salah satu diantara beberapa cara si Dahlan menggunakan lipstik merah politik pencitraannya.
Sekarang, kita di catcatn miring yang tidak menghendaki ketegakan makna tunggal. Jadi mari kita masuk ke kasus lipstiktis yang paling baru. Menariknya, lipstik kali ini tidak murni merah sebagaimana liptik pada umumnya. Ia cenderung berwarna kuning keemasan. Karna dalam situasi yang tersudut sekalipun si Dahlan masih bisa melakukan akrobat politik yang lincah. Dahlan memang politisi. Salam Miring.
*****
Sekali lagi, kenaikan gas elpiji 12 kg menjadi pemberitaan santer di berbagai media di tanah air. Utamanya media online yang mengejar kecepatan memberitakan dengan cepat saat itu juga. Pemberitaan kenaikan elpiji lantas mengalahkan isu yang lain. Sebab kenaikan kali ini pun ­–sebagaimana yang sudah-sudah- dibarengi oleh aksi lempar batu sembunyi tangan. Tak ada satupun yang ingin dijadikan tumbal dalam kasus kenaikan elpiji kali ini.


Pemerintah secara kompak dipimpin presiden dan dikukuhkan oleh Hatta Radjasa melempar batu ke Pertamina. Sebab keputusan tersebut –kenaikan elpiji- merupakan hak dari pada pertamina. Sebaliknya, pertamina tidak mau jadi kambing hitam sendirian dalam masalah ini, menyerang balik pemerintah dengan mengatakan telah dirapatkan di Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Pertaminda yang didalamnya ada unsur pemerintah; menteri BUMN.

Di tengah situasi saling lempar tanggung jawab itu ada fenomena yang menarik. Tiba-tiba Dahlan Iskan dengan sadar rela menjadi tumbal dari keanikan elpiji: “Semua pokoknya salah saya”. Sekilas tidak ada yang menarik dari statemen itu kecuali penyerahan dan mengaku salah. Namun jika di amati lebih jauh, ini adalah cara Dahlan Iskan mencari panggungnya. Saat semua orang tidak ada yang mengaku salah, maka seseorang yang mengakui kesalahan akan menjadi “pahlawan”.

Dalam pengamatan penulis, tujuan Dahlan Iskan mengakui kenaikan elpiji adalah kesalahannya bertujuan mencuri simpati dari masyarakat dengan menyentuh rasa simpati masyarakat. Dalam kebudayaan kita, dari kecil kita diajari bahwa; orang yang mengaku salah lebih baik dari pada yang tidak.
Dalam konteks ini –mencari simpati rakyat dengan menyentuk rasa empatinya- tak berbeda dengan yang dilakukan oleh Hatta Radjasa dan SBY. Bedanya, mereka berdua lebih suka mencari simpati masyarakat dengan cara berpura-pura tidak bersalah dengan cara melempar kesalahan kepada orang lain. Dan tetap saja, banyak jalan menuju Roma.

Dus, apa yang dilakukan ketiga orang itu: sama. Mereka sedang memerankan politik pencitraan yang sudah lazim di kalangan elit indonesia. Bedanya, cara perpolitikan dahlan iskan ini relatif lebih anyar dan lebih cerdas. Sebab ia tahu masyarakat sudah cukup bosan dengan adu benar. Kesempatan itu yang dimanfaatkan dengan baik oleh Dahlan Iskan.

Statemen pendek Dahlan Iskan: “Itu salah saya” mengingatkan penulis pada sebuah pepatah lama. Lebih tepatnya budaya bangkali. Mengakui kesalahan dan berani bertanggung jawab. Pepatah atau budaya ini akrab di telingan, sebab telah diajarkan sejak kecil kepada kita. Namun Dahlan Iskan alpa bahwa dalam pepatah itu, tidak berhenti di “mengakui kesalahan” an-sich. Namun dilanjutkan dengan “bertanggung jawab atas kesalahannya”. Jika memang itu adalah kesalahan Dahlan Iskan. Semestinya ia mulai bertanggung jawab dengan melakukan “sesuatu”.

Sesuatu dengan tanda petik ini mengandung arti; konsepsi reward and punishment. Penerapan punishment salah satunya adalah untuk melahirkan efek jera bagi para pelaku. Ganjaran atas kesalahan secara gamblang akan terlihat oleh orang lain dan membuat calaon pelanggar selanjutnya mengurungkan niat untuk melakukan kesalahan serupa. Terutama karena Dahlan adalah pejabat publik yang harus minim kesalahan. Sebab sebagai pejabat, sedikit kesalahannya akan berdampak banyak terhadap warganya.

Praktek kesadaran akan konsepsi reward and punishment terlihat sempurana di Manila-Filipina. Desember lalu, Menteri Energi Filipina Carlos Jericho Petilla mengajukan pengunduran diri kepada Presiden Benigno Aquino, setelah tidak mampu memenuhi janji untuk mengembalikan listrik di wilayah yang ditimpa topan Haiyan. Kala itu, Petilla berjanji akan menyalakan kembali listrik di seluruh kota yang ditimpa Haiyan, paling lambat pada malam Natal. Namun Petilla tak membayar lunas janjinya.

Lain lubuk lain ikan, lain Petilla lain Dahlan Iskan. Petilla tidak hanya melempar statemen di media, namun ia membuktikan dengan tindakan nyata. Sementara apa yang dilakukan Dahlan Iskan tak lebih dari lipstik pencitraan. Orang jawa menyebutnya: “abang-abang lambe” (merah-merah bibir). Sebatas pemanis saja, tanpa merubah esensi dan arah kebijakan.


Jika memang Dahlan Iskan bersedia bertanggung jawab. Ia bisa melakukan upaya kongkrit, misalnya mengeluarkan statemen terbuka tentang kenaikan elpiji melalui kementeriannya dan mulai menghitung kerugian yang akan dialami oleh masyarakat jika kenaikan ini. Jika memang nantinya dampak dari kenaikan elpiji ini tidak dapat ditanggungnya secara matematis dan politis. Maka tak ada salahnya jika ia dengan gentle mengundurkan diri dari jabatannya. 

Jakarta, 06/01/2014-01:41WIB

No comments:

Post a Comment