*****
Sebuah prolog
Sebelum
tulisan ini dimulai. Memang dari judul ini sudah mengantarkan pembaca pada
judul buku Sepatu dahlan karya Khrisna Pabichara. Sebuah novel yang mengungkap kisah
perjuangan Dahlan Iskan sehingga survive hingga sekarang. “Sepatu Dahlan” ini
adalah salah satu diantara beberapa cara si Dahlan menggunakan lipstik merah
politik pencitraannya.
Sekarang, kita di catcatn miring yang tidak menghendaki ketegakan makna tunggal. Jadi mari
kita masuk ke kasus lipstiktis yang paling baru. Menariknya, lipstik kali ini tidak murni merah
sebagaimana liptik pada umumnya. Ia cenderung berwarna kuning keemasan. Karna
dalam situasi yang tersudut sekalipun si Dahlan masih bisa melakukan akrobat
politik yang lincah. Dahlan memang politisi. Salam Miring.
*****
Sekali lagi, kenaikan gas elpiji 12 kg menjadi pemberitaan
santer di berbagai media di tanah air. Utamanya media online yang mengejar
kecepatan memberitakan dengan cepat saat itu juga. Pemberitaan kenaikan elpiji lantas
mengalahkan isu yang lain. Sebab kenaikan kali ini pun –sebagaimana yang sudah-sudah-
dibarengi oleh aksi lempar batu sembunyi tangan. Tak ada satupun yang ingin
dijadikan tumbal dalam kasus kenaikan elpiji kali ini.
Pemerintah secara kompak dipimpin presiden dan dikukuhkan
oleh Hatta Radjasa melempar batu ke Pertamina. Sebab keputusan tersebut
–kenaikan elpiji- merupakan hak dari pada pertamina. Sebaliknya, pertamina
tidak mau jadi kambing hitam sendirian dalam masalah ini, menyerang balik
pemerintah dengan mengatakan telah dirapatkan di Rapat Umum
Pemegang Saham (RUPS) Pertaminda yang didalamnya ada unsur
pemerintah; menteri BUMN.
Di tengah situasi saling lempar tanggung jawab itu ada
fenomena yang menarik. Tiba-tiba Dahlan Iskan dengan sadar rela menjadi tumbal
dari keanikan elpiji: “Semua pokoknya salah saya”. Sekilas tidak ada yang
menarik dari statemen itu kecuali penyerahan dan mengaku salah. Namun jika di
amati lebih jauh, ini adalah cara Dahlan Iskan mencari panggungnya. Saat semua
orang tidak ada yang mengaku salah, maka seseorang yang mengakui kesalahan akan
menjadi “pahlawan”.
Dalam pengamatan penulis, tujuan Dahlan Iskan mengakui
kenaikan elpiji adalah kesalahannya bertujuan mencuri simpati dari masyarakat
dengan menyentuh rasa simpati masyarakat. Dalam kebudayaan kita, dari kecil
kita diajari bahwa; orang yang mengaku salah lebih baik dari pada yang tidak.
Dalam konteks ini –mencari simpati rakyat dengan menyentuk
rasa empatinya- tak berbeda dengan yang dilakukan oleh Hatta Radjasa dan SBY.
Bedanya, mereka berdua lebih suka mencari simpati masyarakat dengan cara
berpura-pura tidak bersalah dengan cara melempar kesalahan kepada orang lain. Dan
tetap saja, banyak jalan menuju Roma.
Dus, apa yang dilakukan ketiga orang itu: sama.
Mereka sedang memerankan politik pencitraan yang sudah lazim di kalangan elit
indonesia. Bedanya, cara perpolitikan dahlan iskan ini relatif lebih anyar dan
lebih cerdas. Sebab ia tahu masyarakat sudah cukup bosan dengan adu benar.
Kesempatan itu yang dimanfaatkan dengan baik oleh Dahlan Iskan.
Statemen pendek Dahlan Iskan: “Itu salah saya” mengingatkan
penulis pada sebuah pepatah lama. Lebih tepatnya budaya bangkali. Mengakui kesalahan
dan berani bertanggung jawab. Pepatah atau budaya ini akrab di telingan, sebab telah
diajarkan sejak kecil kepada kita. Namun Dahlan Iskan alpa bahwa dalam pepatah itu,
tidak berhenti di “mengakui kesalahan” an-sich. Namun dilanjutkan dengan
“bertanggung jawab atas kesalahannya”. Jika memang itu adalah kesalahan Dahlan
Iskan. Semestinya ia mulai bertanggung jawab dengan melakukan “sesuatu”.
Sesuatu dengan tanda petik ini mengandung arti; konsepsi reward
and punishment. Penerapan punishment salah satunya adalah untuk melahirkan
efek jera bagi para pelaku. Ganjaran atas kesalahan secara gamblang akan
terlihat oleh orang lain dan membuat calaon pelanggar selanjutnya mengurungkan
niat untuk melakukan kesalahan serupa. Terutama karena Dahlan adalah pejabat
publik yang harus minim kesalahan. Sebab sebagai pejabat, sedikit kesalahannya
akan berdampak banyak terhadap warganya.
Praktek kesadaran akan konsepsi reward and punishment
terlihat sempurana di Manila-Filipina. Desember lalu, Menteri Energi Filipina
Carlos Jericho Petilla mengajukan pengunduran diri kepada Presiden Benigno
Aquino, setelah tidak mampu memenuhi janji untuk mengembalikan listrik di
wilayah yang ditimpa topan Haiyan. Kala itu, Petilla berjanji akan menyalakan
kembali listrik di seluruh kota yang ditimpa Haiyan, paling lambat pada malam
Natal. Namun Petilla tak membayar lunas janjinya.
Lain lubuk lain ikan, lain Petilla lain Dahlan Iskan. Petilla
tidak hanya melempar statemen di media, namun ia membuktikan dengan tindakan
nyata. Sementara apa yang dilakukan Dahlan Iskan tak lebih dari lipstik
pencitraan. Orang jawa menyebutnya: “abang-abang lambe” (merah-merah
bibir). Sebatas pemanis saja, tanpa merubah esensi dan arah kebijakan.
Jika memang Dahlan Iskan bersedia bertanggung jawab. Ia bisa
melakukan upaya kongkrit, misalnya mengeluarkan statemen terbuka tentang kenaikan
elpiji melalui kementeriannya dan mulai menghitung kerugian yang akan dialami
oleh masyarakat jika kenaikan ini. Jika memang nantinya dampak dari kenaikan
elpiji ini tidak dapat ditanggungnya secara matematis dan politis. Maka tak ada
salahnya jika ia dengan gentle mengundurkan diri dari jabatannya.
Jakarta, 06/01/2014-01:41WIB

No comments:
Post a Comment