Menggerakkan
NU Kultural dan NU Struktural[1]
…Berbeda dengan yang
lain, NU tidak berpusat di satu tempat –Jakarta misalnya- namun NU yang
sebenarnya ada di desa, di langgar, di pesantren…
Sejatinya,
Nahdlatul Ulama (NU) adalah sebuah organisasi yang menganut salah satu dari Imam Hanafi, Imam Maliki, Imam
Syafii dan Imam Hambali dalam madzhab fiqih. NU menganut ajaran Imam Abu Hasan
al-Asy’ari dan Imam Abu Mansur al-Maturidi dalam bidang tauhid, dan menganut
dasar-dasar ajaran Imam Abu Qasim Al-Junaidy dan Ghazali dalam bidang tasawuf.
Sebab itu inti NU ada di pelosok desa, di masjid, mushallah dan pesantren.
Maka
menggerakkan NU bukan berbicara hanya mempengaruhi dan menggerakkan Struktur
NU. Namun berbicara konsolidasi ke masjid, mushalla, pesantren dan lumbung
basis yang lain. Kemandekan gerakan NU akhir-akhir ini dikarenakan pemimpin NU
berasumsi mendahulukan strukrur dari pada kultur. Bagaimanapun, NU secara
struktur terbentuk disebabkan kondisi politik dunia internasional.
Mengacu
pada sejarah, deklarasi Jamiyyah Nahdlatul
Ulama pada 31 Januari 1926 sesungguhnya
merupakan wadah kritik bagi gerakan wahabisasi di Timur Tengah sejak Ibnu Saud
Raja Najed menaklukkan Hijaz (Mekkah dan Madinah) tahun 1924-1925. Kala itu, wahabisasi
sangat dominan di tanah Haram. Kelompok Islam lain dilarang mengajarkan
madzhabnya, bahkan tidak sedikit para ulama yang dibunuh. Untuk menyelamatkan
diri, para ulama yang semula berkumpul di Haramain pindah atau pulang ke negara
masing-masing, termasuk para santri asal Indonesia yang sedang menimba ilmu di
tanah haram tersebut.
Dengan
mengatasnamakan “menjaga kemurnian agama dari musyrik dan bid’ah”, wahabisme
membongkar tempat bersejarah, baik rumah Nabi Muhammad SAW dan sahabat. Dan
hampir saja makam Nabi pun ikut dibongkar andai para ulama tidak melakukan
protes. Dalam kondisi seperti itu, umat Islam Indonesia yang berhaluan Ahlussunnah wal Jamaah merasa sangat
perihatin kemudian mengirimkan utusan menemui Raja Ibnu Saud. Utusan inilah
yang kemudian disebut dengan Komite Hijaz. Menurut Goenawan Mohammad dalam Caping
9 November 2012, “reaksi dari seluruh dunia Islam tersebut berhasil
menghentikan destruksi (kaum wahabi) itu”.,
Berlatar
sejarah itulah, pasca terbentuknya komite hijaz dilanjutkan dengan pembentukan
organisasi bernama Nahdlatul Ulama pada 1926 di Surabaya. Kini, di berbagai
dearah telah disempurnakan struktural NU dan semakin lengkap. Dari hulu hingga
hilir, NU Struktual membentuk pusat PBNU, PWNU, PCNU hingga ranting.
Namun,
berbeda dengan organisasi lainnya yang bertumpu di satu tempat, di Jakarta
misalnya, NU yang sebenarnya ada di desa, di surau dan di pesantren. Sebab, NU
yang sebenarnya adalah organisasi keislaman yang memiliki basis kekuatan secara
kultural, dan struktural.
Pemahaman
tentang NU struktural dan kultural patut dijadikan sebagai bahan refleksi di
lingkungan ormas terbesar di Indonesia ini, terutama berkaitan dengan
kepemimpinan. Dengan bahasa lain, kepemimpinan di lingkungan internal Nahdlatul
Ulama harus mampu mencontoh pendirinya, yakni KH. Hasyim Asy’ari. Sebab,
kepemimpinan NU di masa kini cenderung serampangan serta mudah terjebak pada
urusan-urusan pragmatis yang terkadang tampak jauh dari tujuan awal
didirikannya NU.
NU dan kepemimpinan
Setiap
kali membicarakan NU, terlebih soal kepemimpinannya, sosok Hadrotus Syeh KH
Hasyim Asy’ari merupakan prototipe idealitas pemimpin ala Nahdlatul Ulama.
Kelebihannya daripada yang lain adalah kemampuan membawa dan menggerakkan NU
Sktruktural dan Kultural. Sejarah mencatat, Resolusi Jihad pada 10 November
1945 adalah bukti nyata keberhasilan beliau dalam memimpin dan menggerakkan NU
struktural dan kultural secara bersamaan.
Menurut
catatan Direktur Museum NU Achmad Muhibbin Zuhri (2012), terdapat dua naskah
Resolusi Jihad. Pertama, naskah
“Resolusi Djihad fi Sabilillah”, salinannya dikoleksi oleh Museum NU.
Naskah tersebut berisi pandangan-pandangan dan pertimbangan yang berkembang
pada rapat besar wakil-wakil daerah (konsul 2: Jawa-Madura) pada tanggal 21-22
Oktober 1945. Kedua, naskah
“Resoloesi Moe’tamar Nahdlatoel Oelama’ ke-XVI” di Purwokerto tanggal
26-29 Maret 1946.
Ada
tiga poin penting dalam kedua naskah Resolusi Jihad itu. Pertama, hukum
membela negara dan melawan penjajah adalah fardlu ‘ain bagi
setiap mukallaf yang berada dalam radius masafat al-safar.
Kedua, perang
melawan penjajah adalah jihad fi sabilillah, dan oleh karena
itu umat Islam yang mati dalam peperangan itu adalah syahid, dan; ketiga,
mereka yang mengkhianati perjuangan umat Islam dengan memecah-belah persatuan
dan menjadi kaki tangan penjajah, wajib hukumnya dibunuh.
Pemahaman
dari ketiga poin penting dari Resolusi
Jihad fi Sabilillah lantas melahirkan keyakinan dan spirit yang kuat saat
menghadapi para penjajah. Salah satunya ialah peristiwa bersejarah peperangan
melawan penjajah di Surabaya yang hingga saat ini bangsa Indonesia selalu
memperingatinya sebagai Hari Pahlawan.
Peristiwa
besar itu membuat kita harus mengevaluasi apa yang dimiliki oleh KH. Hasyim Asy’ari
sehingga NU kultural dan struktural dapat bertautan melawan penjajah?
Jauh
sebelum NU ditasbihkan sebagai sebuah orgaganisasi, Hasyim Asy’ari muda adalah
seorang yang tekun mempelajari ilmu pengetahuan. Kecintaannya terhadap ilmu
pengetahuan membawa beliau belajar kepada berbagai guru terkemuka di tanah air
hingga ke jazirah Arab.
Puncaknya,
setelah puluhan tahun belajar dan mengajar di Mekah, KH. Hasyim pulang ke
Indonesia dengan Gelar Hadrotus-Syekh. Sebuah gelar yang diberikan kepada
seorang Alim Ulama yang menghafal Qur’an, Kutubus-Sittah, dan menjadi imam di masjidil
harom. Artinya, jauh sebelum kiprahnya di Indonesia, Hadrotus Syeikh Hasyim
Asy’ari telah memiliki investasi besar dalam bidang pengetahuan agama dan
keber-agamaan di Mekah dan dunia Islam pada umumnya. Di Indonesia, beliau tidak
berdiri di menara gading sebagai ulama yang jauh dari masyarakat. Bahkan,
beliau sendiri memimpin perjuangan melawan penjajah sebelum dan sesudah
kemerdekaan.
Investasi
pengetahuan yang mendunia, ketekunan dalam beragama dan keistiqomahan dalam
perjuangan merupakan kata kunci dari keberhasilan kepemimpinan Hadrotus Syekh
Hasyim Asy’ari. Itulah alasan mengapa warga Nahdliyyin (NU kultural)
taqlid (mengikuti) kepada kepemimpinan beliau.
NU dan Politik
Persinggungan
NU dengan politik bukanlah hal baru dalam sejarah NU organisasi yang berumur
hampir 88 tahun ini. Seperti ombak di bibir pantai, peran politik NU pun pasang
surut. Kondisi relevan dalam perpolitikan NU drastis semakin menurun. Di tanah
air saja NU tak mampu menjadi bagian besar dalam penentuan arah kebijakan
bangsa. Dalam kontek yang paling pragmatis dalam politik sekalipun,
keterlibatan NU secara langsung dalam bidang politik tidak memberikan hasil
serta dampak yang banyak dalam perolehan suara.
Beberapa
momentum keterlibatan NU Struktural dalam politik praktis; Yang teranyar, pencalonan
Khofifah di Pilgub Jatim 2013 lalu. Penggunaan NU secara struktural melalui
PBNU kandas. Seperti ayam keok di kandang, keberadaan PBNU di belakang Khofifah
tidak menjadi jaminan kemenangan. Parahnya lagi, kekalahan ini terjadi di Jawa
Timur yang menjadi basis Nahdlatul Ulama.
Realitas
ini menunjukkan NU struktural tidak lagi menjadi representasi atau keterwakilan
dari NU kultural yang berjumlah jutaan orang. Kaum Nahdliyyin mempunyai
kecenderungan menyebut dirinya santri yang nurut sama kiai atau Ulama.
Sedangkan kiai adalah sebutan bagi orang yang memiliki pengetahuan agama dan
mengamalkannya dalam keseharian. Sehingga dalam terminologi islam, ulama
berkedudukan sebagai penerus para Nabi (al’ulama warotsatul ambiya’).
Ulama
juga didalam bahasa lain disebut kasta Brahmana. Agus Sunyoto, 2009 di
Yogyakarta mengatakan: “Tinggi rendahnya Kasta seseorang ditentukan oleh
jauh dan dekatnya manusia dari Duniawi”. Menurutnya; Brahmana adalah
seorang yang sama sekali menghindari duniawi, Ksatria adalah orang yang
berhubungan dengan dunia bukan untuk kepentingannya sendiri, sedangkan Sudra
adalah kasta seseorang yang bekerja untuk dirinya sendiri.
Seperti
KH. Hasyim Asy’ari. Keberhasilannya dalam menggerakkan NU Kulturan dan
Struktural, adalah karena beliau memiliki investasi pengetahuan yang luas,
ketekunan dalam agama dan kegigihan dalam berjuang. Singkat kata, beliau adalah
Ulama yang berperilaku dengan Akhlaqul Karimah. Figur seperti inilah
yang kerap dicontoh oleh masyarakat Indonesia, bukan kaum sudra yang mengejar
dunia dengan menghalalkan segala cara.
[1] Makalah ini disampaikan
dalam seminar di Institut Keislaman Abdullah Faqih pada 07 Januari 2014.

The Perfect Casino: Top Offers & Bonuses at
ReplyDeleteThe Best Casino Offers. worrione Casino Bonuses & Promotions. With an emphasis on casino games, the gambling apr casino industry is https://septcasino.com/review/merit-casino/ expected septcasino to explode