Catatan miring sepertinya bukan resensi
| Judul | : | Pulang Sebuah Novel |
| Pengarang | : | Leila S. Chudori |
| ISBN | : | 9789799105158 |
| KPG | : | 901120609 |
| Ukuran | : | 200 x 135 mm |
| Halaman | : | 552 halaman |
Pulang adalah novel yang
mengisahkan kerinduan orang-orang yang terbuang dari Tanah yang melahirkannya. Seseorang
yang terpisah dari rumahnya, tak peduli kesuksesannya telah membuatnya tidur di
atas tumpukan uang sekalipun, hanya menginginkan pulang di akhir cerita
hidupnya. Pulang bukanlah sesuatu yang bisa dibayar dengan uang. Novel 552 halaman ini mengisahkan keinginan Dimas Suryo untuk pulang setelah terpisah puluhan
tahun dengan Tanah Airnya. Ia hanya ingin pulang…
Leila S Chudori tahu, secara
psikologis, semua orang suka
kata “pulang”. Para pelajar akan melompat-lompat saat waktu
pulang. Pekerja yang masuk kantor pagi hari, mereka tak buahnya hanya penunggu
sore untuk “pulang”. Tanpa mengenal usia, pekerjaan, jenis kelamin, Semua orang
ingin pulang. Pulang seperti air
dingin saat dahaga. Di dalam alam
bawah sadar, selalu ada
“rumah” tempat ia meletakkan rindu dan damai. Inilah kejelian Leila S Chudori
memilih judul novelnya; “Pulang”.
Leila tahu, semua orang ingin pulang…
Novel “Pulang” yang lahir di Desember 2012 ini membingkai kejadian-kejadian penting dalam
sejarah perjalanan bangsa Indonesia. Sejarah pembantaian Partai Komunis Indonesia
yang kelak dikenal dengan G30S, kudeta militer Soeharto terhadap Soekarno
lengkap beserta gejolak perburuan aktivis era 65/66 di jakarta dibingkai
sempurna dalam perkawinan kalimat yang tak lazim.
Seperti tuhan, Leila menghidupkan
Dimas Suryo begitu saja. Seorang pemuda yang hidup di masa akhir kepemimpinan
Soekarno. Sebuah masa yang tak aman bagi penulis berita anti pemerintah. Pekerjaannya
membuat dirinya dan teman-temannya menjadi Target Operasi Tentara. Pelarian
dimulai. Indonesia seperti tak menginginkannya…
Paris dengan segala keindahannya
budaya dan sastranya hanya menambah kerinduannya pada rumah. Bahkan Vivienne sekalipun,
wanita prancis yang memiliki mata biru tak bisa membuat prancis menjadi rumah
bagi jiwa Dimas Suryo. Hari yang bertambah tua hanya memupuk kerinduan yang semakin
dalam akan Tanah Air.
Benar kata orang; Jarak lah
yang menciptakan rindu. Di restoran Empat Pilar Tanah Air di prancis, ia
dan teman-temannya menciptakan dan menghidangkan masakan khas Indonesia. Dengan
bumbu Indonesia. Tekstur a la Indonesia. Semua serba Indonesia. Namun jarak
keindonesiaan yang kadung menggumpal tetap tak bisa dibayar. Jarak, tetap saja
melahirkan keinginan Pulang.
Leila merekayasa kata perkata,
kalimat perkalimat menjadi bangunan ruang dan waktu. Seperti pesulap. Hanya dengan
sim salabim, pembaca dilemparkan begitu saja di tengah Jakarta yang
panas. Ketakutan dalam kalimat membuat hati pembaca turut bergetar ketakutan. Namun
dengan abra kadabra, Leila memindahkan kita ke prancis kembali. Kadang hidung
pembaca juga merasakan anyir darah melalui hidung kenanga saat dipaksa mengepel
lantai penjara. Lalu kemudian ke Solo dengan pembantaian yang tak berkesudahan.
Lalu jakarta. Paris. Jakarta. Leila menembus ruang dengan sempurna.
Jika dalam film Jumper (2008),
Hayden hanya bisa melewati ruang. Ia dapat melompat dari kamar Hawai, ke New
York, China, Mesir, Roma dll. Lebih dari melintasi ruang, Leila dapat membawa
kita menembus waktu. Leila is the Jumper. Dia tidak hanya melompat. Dia membawa
serta pembaca hidup di tahun 65 mengikuti awal memanasnya setelah Supersemar
ditandatangani. Tahun 98, lintang -Putri
Dimas Suryo dan Vivinne- menemukan surat kusam ayahnya. Melalui surat dari Aji
Suryo –Adik Dimas S-itu, Leila melarikan pembaca menuju Solo saat Aji Suryo
melarikan diri dari ke Jakarta. Melalui surat di tangan Lintang, Leila membawa
pembaca meninggalkan Lintang seketika untuk menuju Rutan Guntur dan menyaksikan
penyiksaan kepada mereka yang dianggap Anggota, Keluarga, Antek dan Simpatisan
PKI. Leila hanya butuh secarik kertas untuk membuat hati pembaca berdegup
kencang, menahan nafas, dan menahan tumpahnya air mata.
Selain menceritakan kisah dengan
tampilan kata-kata yang indah. Novel Pulang membawa sebuah misi. Ia menjelaskan
sejarah secara obyektif sejarah. Menulis kebenaran sebagai kebenaran. Menceritakan
kisah sebagai kebenaran tanpa ditunggangi oleh kepentingan tertentu. Novel ini
membongkar bangunan kebenaran yang lama ditanamkan kepada masyarakat Indonesia
tentang PKI.
Dari dulu (hingga saat ini
barangkali) PKI dianggap sebagai organisasi yang akan membawa Indonesia keluar
dari cita-cita Pancasila. Lebih sadis lagi PKI disamadengankan dengan Kafir dan
layak dibunuh. Doktrin ini menjadi bagian dari perjalanan sejarah kelam berbangsa.
Novel Pulang ini mencoba mendekonstruksi kebenaran sejarah tersebut. Sebuah pekerjaan
yang tidak mudah tentunya. Namun inilah yang membuat Pulang menjadi berbeda, diantara
banyak pengartian dan kebenaran yang absolut ia menghadirkan makna yang miring
dan segar.
Leila, dengan Pulang menyihir
pembaca. Pembaca seperti berdiri di malam tanpa sinar sedikitpun kecuali dari lilin-lilin
yang berjajar. Pulang hanya memberikan 2 opsi pada pembaca; terus
berjalan mengikuti lilin dan sampai pada terang. Atau berhenti dan mati dibungkus
kafan bernama penasaran.
No comments:
Post a Comment