Tuesday, 24 December 2013

PULANG

Catatan miring sepertinya bukan resensi
Judul:Pulang Sebuah Novel
Pengarang:Leila S. Chudori
ISBN:9789799105158
KPG:901120609
Ukuran:200 x 135 mm
Halaman:552 halaman
Pulang adalah novel yang mengisahkan kerinduan orang-orang yang terbuang dari Tanah yang melahirkannya. Seseorang yang terpisah dari rumahnya, tak peduli kesuksesannya telah membuatnya tidur di atas tumpukan uang sekalipun, hanya menginginkan pulang di akhir cerita hidupnya. Pulang bukanlah sesuatu yang bisa dibayar dengan uang. Novel 552 halaman ini mengisahkan keinginan Dimas Suryo untuk pulang setelah terpisah puluhan tahun dengan Tanah Airnya. Ia hanya ingin pulang…

Leila S Chudori tahu, secara psikologis, semua orang suka kata “pulang. Para pelajar akan melompat-lompat saat waktu pulang. Pekerja yang masuk kantor pagi hari, mereka tak buahnya hanya penunggu sore untuk “pulang”. Tanpa mengenal usia, pekerjaan, jenis kelamin, Semua orang ingin pulang. Pulang seperti air dingin saat dahaga. Di dalam alam bawah sadar, selalu ada “rumah” tempat ia meletakkan rindu dan damai. Inilah kejelian Leila S Chudori memilih judul novelnya; “Pulang”. Leila tahu, semua orang ingin pulang
Novel “Pulang” yang lahir di Desember 2012 ini membingkai kejadian-kejadian penting dalam sejarah perjalanan bangsa Indonesia. Sejarah pembantaian Partai Komunis Indonesia yang kelak dikenal dengan G30S, kudeta militer Soeharto terhadap Soekarno lengkap beserta gejolak perburuan aktivis era 65/66 di jakarta dibingkai sempurna dalam perkawinan kalimat yang tak lazim.
Seperti tuhan, Leila menghidupkan Dimas Suryo begitu saja. Seorang pemuda yang hidup di masa akhir kepemimpinan Soekarno. Sebuah masa yang tak aman bagi penulis berita anti pemerintah. Pekerjaannya membuat dirinya dan teman-temannya menjadi Target Operasi Tentara. Pelarian dimulai. Indonesia seperti tak menginginkannya…
Paris dengan segala keindahannya budaya dan sastranya hanya menambah kerinduannya pada rumah. Bahkan Vivienne sekalipun, wanita prancis yang memiliki mata biru tak bisa membuat prancis menjadi rumah bagi jiwa Dimas Suryo. Hari yang bertambah tua hanya memupuk kerinduan yang semakin dalam akan Tanah Air.
Benar kata orang; Jarak lah yang menciptakan rindu. Di restoran Empat Pilar Tanah Air di prancis, ia dan teman-temannya menciptakan dan menghidangkan masakan khas Indonesia. Dengan bumbu Indonesia. Tekstur a la Indonesia. Semua serba Indonesia. Namun jarak keindonesiaan yang kadung menggumpal tetap tak bisa dibayar. Jarak, tetap saja melahirkan keinginan Pulang.
Leila merekayasa kata perkata, kalimat perkalimat menjadi bangunan ruang dan waktu. Seperti pesulap. Hanya dengan sim salabim, pembaca dilemparkan begitu saja di tengah Jakarta yang panas. Ketakutan dalam kalimat membuat hati pembaca turut bergetar ketakutan. Namun dengan abra kadabra, Leila memindahkan kita ke prancis kembali. Kadang hidung pembaca juga merasakan anyir darah melalui hidung kenanga saat dipaksa mengepel lantai penjara. Lalu kemudian ke Solo dengan pembantaian yang tak berkesudahan. Lalu jakarta. Paris. Jakarta. Leila menembus ruang dengan sempurna.
Jika dalam film Jumper (2008), Hayden hanya bisa melewati ruang. Ia dapat melompat dari kamar Hawai, ke New York, China, Mesir, Roma dll. Lebih dari melintasi ruang, Leila dapat membawa kita menembus waktu. Leila is the Jumper. Dia tidak hanya melompat. Dia membawa serta pembaca hidup di tahun 65 mengikuti awal memanasnya setelah Supersemar ditandatangani. Tahun 98, lintang  -Putri Dimas Suryo dan Vivinne- menemukan surat kusam ayahnya. Melalui surat dari Aji Suryo –Adik Dimas S-itu, Leila melarikan pembaca menuju Solo saat Aji Suryo melarikan diri dari ke Jakarta. Melalui surat di tangan Lintang, Leila membawa pembaca meninggalkan Lintang seketika untuk menuju Rutan Guntur dan menyaksikan penyiksaan kepada mereka yang dianggap Anggota, Keluarga, Antek dan Simpatisan PKI. Leila hanya butuh secarik kertas untuk membuat hati pembaca berdegup kencang, menahan nafas, dan menahan tumpahnya air mata.
Selain menceritakan kisah dengan tampilan kata-kata yang indah. Novel Pulang membawa sebuah misi. Ia menjelaskan sejarah secara obyektif sejarah. Menulis kebenaran sebagai kebenaran. Menceritakan kisah sebagai kebenaran tanpa ditunggangi oleh kepentingan tertentu. Novel ini membongkar bangunan kebenaran yang lama ditanamkan kepada masyarakat Indonesia tentang PKI.
Dari dulu (hingga saat ini barangkali) PKI dianggap sebagai organisasi yang akan membawa Indonesia keluar dari cita-cita Pancasila. Lebih sadis lagi PKI disamadengankan dengan Kafir dan layak dibunuh. Doktrin ini menjadi bagian dari perjalanan sejarah kelam berbangsa. Novel Pulang ini mencoba mendekonstruksi kebenaran sejarah tersebut. Sebuah pekerjaan yang tidak mudah tentunya. Namun inilah yang membuat Pulang menjadi berbeda, diantara banyak pengartian dan kebenaran yang absolut ia menghadirkan makna yang miring dan segar.
Leila, dengan Pulang menyihir pembaca. Pembaca seperti berdiri di malam tanpa sinar sedikitpun kecuali dari lilin-lilin yang berjajar. Pulang hanya memberikan 2 opsi pada pembaca; terus berjalan mengikuti lilin dan sampai pada terang. Atau berhenti dan mati dibungkus kafan bernama penasaran. 

No comments:

Post a Comment